Wednesday, December 2, 2015

Kelangkaan Kain Tapis Lampung

Kain tenun tapi merupakan salah satu cinderamata khas Lampung yang banyak diburu wisatawan. Artinya berkunjung ke Lampung tanpa membeli kain tapis, terasa kurang afdol. Kain tapis pun mudah didapat, mulai dari kelas masyarakat yang harganya ratusan ribu, hingga kelas mewah yang harganya menyentuh jutaan rupiah.

Kerajinan kain tapis sendiri sudah berlangsung turun temurun dilakukan masyarakat Lampung. Namun karena proses pembuatannya yang agak rumit, generasi yang belakangan mulai meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya, dalam menenun kain tapis. Kondisi itu membuat gusar pemerintah karena khawatir budaya menenun kain tapis bakal tergusur.

Wajar kegusaran itu muncul mengingat, motif-motif kain tapis mulai banyak yang tidak diingat oleh masyarakat Lampung. Dari jumlah awal yang mencapai ratusan motif, kini kain tenun tapis hanya menampilkan tigapuluh motif saja. Mereka yang mengingat motif kain tapis pun makin terbatas pada perajin yang tetap konsisten menjaga budaya leluhurnya. (Baca: kain tenun tapis murah)

Untuk mendorong perajin tetap menekuni kain tenun tapis, pemerintah Lampung berupaya melakukan berbagai rangsangan seperti menggelar pameran. Selain itu, sentra penjualan kain tenus tapis pun diperbanyak, dengan harapan mempermudah wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh kain tapis.

Darman salah seorang perajin kain tenun tapis di Kalianda Lampung Selatan mengatakan, ada beberapa motif kain tapis yang sudah dilupakan perajin. Kalau dalam sejarahnya, motif kain tapi itu mencapai duaratusan. Kini hanya puluhan saja, motif yang masih digunakan para perajin. Jumlah perajin pun terus berkurang. Mungkin ini terkait dengan rumitnya pembuatan kain tenun tapis, sehingga generasi muda sekarang yang tidak mau repot, enggan untuk menekuninya.

Menurut Darman, pembuatan kain tenun tapis secara tradisional memakan waktu cukup lama. Waktu yang paling singkat untuk menyelesaikan kain tenun tapis bisa mencapai satu bulan. Apalagi kalau motif-motifnya yang lebih lebih rumit, mungkin penyelesaiannya lebih lama. Itu pula yang membuat kain tapis harganya jadi agak mahal.

Sementara Sarah, perajin asal Tulangbawang mengungkapkan, memang banyak wisatawan yang berkunjung ke Lampung menanyakan kain tapis untuk oleh-oleh. Namun tidak sedikit pula wisatawan yang akhirnya batal membeli kain tapis setelah mengetahui harganya agak mahal. Untuk kain tapis yang kelas pasaran saja, wisatawan harus mergoh kocek hingga Rp 350.000,00. Sementara harga kain tapis yang agak mewah bisa menembus Rp 2 juta ke atas.

"Biasanya yang banyak membeli turis dari luar negeri. Mereka membeli bukan untuk digunakan, cuma hanya untuk kenang-kenangan saja. Mereka membeli sebagai bentuk penghargaan atas karya seni. Para turis asing merasa kagum dengan proses pembuatan kain tenun tapis. Apalagi setelah tahu hasil tenunan kain tapi sangat indah. Perajin kain tenun tapis berharap agar diperbanyak lagi kegiatan-kegiatan yang bisa mempromosikan kain tapis sekaligus menjadi ajang pemasaran," ujar Sarah.

Sarah menjelaskan, motif kain tenun tapis yang masih sering dipakai para perajin, antara lain Cucuk Andak, Jung Sarat, Laut Andak, Areng, Inuh, Semaka, Kuning, Cukkil, Jinggu, Balak, Laut Linau, Raja Medal, Pucuk Rebung, Tuho, Sasap, dan Lawok Silung. Di luar motif-motif itu, masih banyak lagi motif yang berkembang di beberapa daerah pedalaman Lampung. Sebagian besar menggambarkan kekayaan alam di Lampung, baik berupa flora maupun fauna dan pemandangan alam.

Penggunaan kain tapis, selama ini bagi masyarakat Lampung untuk kegiatan-kegiatan adat. Misalnya upacara pernikahan, menyambut tamu, dan pemberian gelar. Namun mulai banyak juga masyarakat Lampung yang memodifikasi kain tenun tapis untuk kegiatan kekinian.

Motif yang dipakai pada kain tenun tapis, turut mempengaruhi penggunaannya. Seperti kain tapis motif Cucuk Andak biasanya dikenakan oleh istri kepala adat yang bergelar sutan saat menghadiri upacara pernikahan. Tapis Jung Sarat lebih sering dipakai mempelai wanita pada upacara adat pernikahan. Tapis motif Laut Andak digunakan oleh gadis-gadis penari pada upacara adat cangget. Dan tapis motif Areng dikenakan oleh istri-istri yang suaminya sudah mendapat gelar sutan, saat menghadiri upacara pemberian gelar.

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/

Keunggulan Motif Tapis Dibandingkan Motif Kain Tenun Lainnya

Setiap jenis kain tapis memiliki identitas tersendiri berdasarkan latar belakang daerah, sehingga dapat dikenal dan dibedakan dari etnis lainnya. Kain tenun tradisional Lampung merupakan salah satu identitas masyarakat etnis Lampung yang menghasilkan berbagai karya jenis tekstil. Jenis-jenis kain yang di kenal di masyarakat antara lain :

1.       Tapis Raja Tunggal, kain tapis ini merupakan sarung tenunan pakan lungsin, bahan dasarnya dari benang kapas, berlajur horizontal warna merah, hitam, putih, kuning, dan hijau. Ragam hias disulam dengan benang emas dan benang kapas. Motifnya yaitu orang di atas perahu, orang sedang menunggang kuda, pucuk rebung, bintang, dan pilin. Kain ini biasanya dipakai oleh istri kerabat paling tua pada upacara adat. (Baca: pusat grosir tapis kaligrafi)

2.      Tapis Raja Medal. Tapis raja medal merupakan sarung pakan lungsin. Bahan dasarnya benang kapas, berlajur horizontal warna merah hati, hitam, kuning, dan hijau. Ragam hias disulam benang emas. Motifnya antara lain orang di atas rato ditarik orang, ayam nyecak konci, dan pucuk rebung. Bagian bawah terdapat sasab dengan penyawat benang katun berbentuk tekstur pucuk rebung dan belah ketupat. Kain ini biasanya dipakai oleh kerabat paling tua (tuho penyimbang) pada upacara adat, seperti mengawinkan anak atau pengambilan gelar.

3.      Tapis Laut Linau. Tapis laut linau merupakan bentuk sarung tenunan pakan lungsin. Bahan dasar dari benang kapas berlajur horizontal, warna hitam, coklet, biru, merah hati, dan merah muda. Ragam hias penuh yang diulam dengan benang emas. Motif yang digunakan adalah pucuk rebung, belah ketupat, sasab, dan kupu-kupu. Kain ini digunakan oleh para gadis pengiring pengantin atau pada saat menari Cangget.

4.      Tapis Laut Silung. Tapis Laut Silung merupakan sarung tenunan pakan lungsin. Bahan dasar dari benang kapas berlajur horizontal, warna merah manggis, biru tua, dan biru muda. Ragam hias penuh yang disulam dengan benang emas. Motifnya yaitu tajuk berayun, pucuk rebung susun, sasab, belah ketupat, dan bunga. Kain ini dipakai oleh istri yang tergolong kerabat jauh saat menghadiri upacara adat, juga oleh para gadis pengiring pengantin pada penari Cangget.

5.       Tapis Jung Sarat. Tapis jung sarat merupakan sarung tenunan pakan lungsin. Bahan dasr dari benang kapas berlajur horizontal, warna merah, coklat, dan putih. Ragam hias penuh disulam dengan benang emas. Motif pucuk rebung, sasab besar tekstur benang penyawat iluk keris, mata kibau, dan pucuk rebung digayakan. Kail ini dipakai oleh pengantin wanita saat upacara adat.

6.      Tapis Balak. Tapis balak merupakan sarung tenunan pakan lungsin. Bahan dasar kain ini dari 

benang kapas berlajur horizontal besar dan kecil, warna cokelat muda, cokelat tua, merah, dan     biru. Ragam hias disulam dengan benang emas. Motif sasab dengan tekstur tajuk pada sasab kecil, motif pilin, naga, tajuk berayun, serta tempelan kaca dengan benang berwarna merah dan hijau. Kain ini dipakai oleh wanita yang sudah tua dan penyimbang.

Sumber:
http://www.mikirbae.com/


Kisaran Harga Tapis Kuno

Khasanah kain nusantara di Indonesia jelas amat kaya. Lampung pun boleh cukup berbangga karena memiliki tapis, sebuah kain tenun yang kemudian dipercantik dengan sulaman benang emas.
Sebuah produk budaya yang hanya dimiliki oleh Lampung. (Baca: koleksi tapis kaligrafi)

Eksisnya tapis sebagai salah satu wastra milik Lampung, tidak boleh dilepaskan dari eksisnya budaya dan adat istiadat Lampung itu sendiri.

Memang benar, tapis di era modern kini dapat dijumpai dan dimiliki oleh masyarakat luas. Tersebarnya galeri dan toko oleh-oleh di Lampung yang sediakan tapis pun kian memasyarakatkan kain tersebut.

Benar adanya jika kerajinan tapis pada zaman dulu lebih sebagai kebutuhan sosial sekelompok masyarakat pendukungnya untuk memenuhi kepentingan adat istiadat.

Misalnya untuk keperluan pemberian gelar adat, penyambutan tamu penting, upacara perkawinan, upacara adat mengangkat saudara (muari), dan lain-lain.

Misal saja salah satu tradisi yang bisa diambil contoh dan menghidupi tapis di masyarakat adalah tradisi sesan di acara pernikahan Lampung.

Tapis selalu menjadi bagian dari barang serah-serahan yang dibawa calon mempelai.

Dimana disitu memiliki makna, "Ini aku titipkan warisan ini padamu untuk kau jaga dan lestarikan". Secara tidak langsung, dari generasi ke generasi tapis telah mendarah daging melalui tradisi tadi.
Jika membandingkan tapis dengan wastra nusantara lain pun, kita akan memiliki kebanggan tersendiri. Dari segi motif, warna, desain dan filosofi, kain tapis memiliki ciri khas tiada duanya.

Itu yang kemudian membuat banyak desainer terinspirasi untuk mengadaptasi tapis kedalam rancangan busana mereka.

Tengok bagaimana motif tapis Lampung. Ragam flora dan fauna seperti gajah, tumbuh-tumbuhan menghiasi desain tapis. Ada pula kain tertentu yang mengangkat kehidupan rumah tangga seperti pada kain tapis cucuk andak.

Selain itu, terdapat perbedaan motif yang dipengaruhi asal daerahnya, seperti tapis pepadun, tapis peminggir, tapis liwa, dan tapis abung.

Motif pada tapis peminggir (pesisir) dominan mengangkat flora sementara motif tapis pepadun (pedalaman) cenderung sederhana dan kaku.

Kemudian ada lagi motif kapal, siger yang telah menjadi ciri khas hingga saat ini adalah produk asimilasi (percampuran) budaya yang sukses dilakukan di masyarakat.
Bagaimana animisme, dinamisme, hindu, budha hingga Islam memberikan kontribusi positif pada perkembangan motif tapis.

Perlu dicatat, proses pembuatan kain tapis tradisional terbilang rumit dan harus dikerjakan secara manual, sehingga pengerjaannya dapat memakan waktu berminggu-minggu.
Hal ini membuat kain tapis memiliki harga yang relatif mahal.

Kisaran harga kain tapis tradisional amat bervariasi, tergantung kerumitan motif, proporsi penggunaan benang emas, dan umur kain tersebut.

Kain tapis sulam produksi baru umumnya berkisar pada angka jutaan rupiah. Jika sudah berumur puluhan tahun, sehelai kain tapis dapat berusia ratusan juta rupiah dan menjadi benda koleksi.
Belum lagi jika berbicara batik dan sulam usus. Produk-produk tersebut kian berterima, desainer kian cerdas memadu madankan keragaman desain dengan olahan produk yang bisa digunakan keseharian.
Namun jika berbicara harga, maka hal ini sudah ranah yang berbeda. Sebab kita akan melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Kain sebagai hasil seni, atau hanya produk masal yang bisa dinikmati masyarakat luas.

Jika berbicara produk seni, maka kita akan dengan rasional menerima harga mahal dari produk budaya itu, baik tapis, sulam usus atau batik Lampung.

Karena semuanya dikerjakan dengan hati yang memakan waktu lama. Beda dengan produk masal yang bisa kita temui di Bambu Kuning atau toko, harga yang murah dengan corak yang senada.
Namun dari kontroversi harga produk budaya tadi, lebih bijak kiranya jika menyikapinya secara positif. Mengapresiasinya, kemudian menggunakannya sebagai bentuk partisipasi kita melestarikan warisan leluhur yang adiluhung.

Sumber:

http://www.tribunnews.com/

Tapis Kaligrafi Sulam Benang Emas Murah

Busana tradisional Lampung identik dengan warna gemerlap, khususnya warna emas. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aksesorinya, antara lain siger, gelang kano, gelang bukhung, dantanggai yang amat menonjolkan sentuhan warna emas. Selain aksesori, sentuhan warna emas juga dapat ditemukan dalam produk tekstil tradisional Lampung. Salah satu di antaranya adalah kain tapis, yang kini menjadi produk tekstil unggulan provinsi ini. (Baca: kain tenun tapis kaligrafi)

Kain tapis merupakan produk tradisional Lampung dengan pola motif khusus dari benang emas atau perak. Bahan dasar dari kain ini adalah benang kapas yang ditenun secara tradisional. Motif-motif dekorasi benang emas atau perak dibuat dengan tehnik sulam (cucuk dalam bahasa setempat) tradisional atau tehnik bordir (modern). Kain ini biasanya digunakan kaum perempuan sebagai penutup tubuh bagian bawah, dari pinggang hingga mata kaki.

Motif-motif yang diaplikasikan dalam kain tapis umumnya mengangkat tema alam, terutama flora dan fauna. Ada pula kain tertentu yang mengangkat kehidupan rumah tangga seperti pada kaintapis cucuk andak. Selain itu, terdapat perbedaan motif yang dipengaruhi asal daerahnya, sepertitapis pepadun, tapis peminggir, tapis liwa, dan tapis abung. Motif pada tapis peminggir (pesisir) dominan mengangkat flora sementara motif tapis pepadun (pedalaman) cenderung sederhana dan kaku. 

Proses pembuatan kain tapis tradisional terbilang rumit dan harus dikerjakan secara manual, sehingga pengerjaannya dapat memakan waktu berminggu-minggu. Hal ini membuat kain tapismemiliki harga yang relatif mahal. 

Kisaran harga kain tapis tradisional amat bervariasi, tergantung kerumitan motif, proporsi penggunaan benang emas, dan umur kain tersebut. Kain tapis sulam produksi baru umumnya berkisar pada angka jutaan rupiah. Jika sudah berumur puluhan tahun, sehelai kain tapis dapat berusia ratusan juta rupiah dan menjadi benda koleksi. 

Seiring perkembangan zaman, muncul varian kain tapis yang dibuat dengan tehnik bordir menggunakan mesin. Kain tapis bordir ini dapat diproduksi secara massal dengan waktu pengerjaan yang lebih singkat. 

Tehnik bordir juga terbagi lagi menjadi tehnik bordir secara manual dan bordir dengan komputer. Dari segi harga, tapis bordir manual dihargai lebih tinggi dibanding tapis bordir modern. Hal ini terkait tingkat kerumitan pengerjaannya. 

Sumber:

http://www.indonesiakaya.com/

Grosir Songket Sumatra Termurah

Kain Songket memberikan nilai tersendiri yang dapat menujukan “kebesaran” bagi orang-orang yang mengenakan dan membuatnya. Rangkaian benang yang tersusun dan teranyam rapi dengan pola simetris itu, menunjukkan bahwa kain songket dibuat dengan keterampilan masyarakat yang lebih dari sekedar memahami cara untuk membuat kain, akan tetapi keahlian dan ketelitian itu telah mendarah daging. (Baca juga: koleksi songket Lampung kaligrafi)

Lestarinya kain Songket mutlak disebabkan karena adanya proses pembelajaran antar generasi, selain itu, Songket tidak hanya selembar kain benda pakai, songket adalah simbol budaya yang telah merasuk dalam kehidupan, tradisi, sistem nilai, dan sosial masyarakatnyaGemerlap warna serta kilauan emas yang terpancar pada kain Songket, pada masa lalu bahkan membuktikan sebuah simbol kekayaan suatu daerah. Kain-kain semacam ini selain digunakan oleh kalangan istana dan para pejabat. Dalam sejarahnya, songket merupakan komiditi perdagangan yang sangat berharga, bahkan hingga saat ini.

Tenun Songket dalam Sejarahnya

Sejak zaman prasejarah, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal teknik menenun. Hal ini diperkuat dengan adanya penemuan tembikar dari zaman neolitik yang di dalamnya terdapat kain tenun kasar juga beberapa temuan fragmen kain tenun lainnya.

Salah satu yang menjadi “gudang tenun” di Nusantara adalah Pulau Sumatra. Setiap daerah di wilayah ini bahkan mempunyai ciri khas tenunannya masing-masing. Saling pengaruh-mempengaruhi antar tempat dan daerah di Pulau Sumatra tentu saja tidak dapat dihindarkan, interaksi budaya tenun antar etnis di Sumatra dan sekitarnya dimungkinkan terjadi karena letak geografis yang saling berdekatan satu sama lain; dapat dicapai dengan mudah. Songket Palembang sepintas tampak pengaruhnya pada kain-kain di wilayah Jambi, Riau, dan Sumatra Utara

Songket Palembang konon merupakan peninggalan dari kejayaan kerajaan Sriwijaya pada abad ke-9 Masehi. Kerajaan yang berdiri pada abad ke-7 ini pada perkembangannya kemudian mampu menguasai lalu lintas perdagangan di Selat Malaka, hingga mempunyai pengaruh cukup kuat di wilayah India dan Cina.

Sebagai wilayah yang dijuluki Swarnadwipa (Pulau emas), di bawah naungan kerajaan yang berkuasa saat itu emas sebagai logam mulia, telah memainkan peranannya yang penting.  Bahkan saking kayanya dengan emas, Raja Sriwijaya tiap harinya membuang sebungkal emas ke sebuah kolam dekat istananya, begitulah menurut kabar dari orang-orang Cina yang waktu itu memang aktif melakukan perdagangan dengan Sriwijaya.

Jaringan perdagangan internasional ini membawa pengaruh besar dalam hal pengolahan kain tradisional mereka. Pada perkembangannya dimungkinkan bahan yang digunakan untuk membuat songket telah di kirim dari berbagai daerah.

Sebagian emas dan beberapa logam mulai lainnya dari Sumatra, dikirim ke negeri Siam (Thailand) dan wilayah Vietnam —dua wilayah tersebut memang terkenal sebagai tempat pengrajin logam di Asia Tenggara, dari masa perundagian. Di sana, emas mereka jadikan benang, tentunya di wilayah Sumatra juga tradisi membuat benang emas sudah ada. Emas yang telah menjadi benang kemudian dikirim kembali ke kerajaan Sriwijaya untuk ditenun dengan menggunakan jalinan benang sutra berwarna yang sebagian mereka dapatkan dari India dan juga Tiongkok (Cina), tetapi sebagian besar dihasilkan oleh masyarakatnya. Palembang bahkan dikenal dengan pembudidayaan ternak ulat sutera untuk diambil benangnya.

Selain sebagai bandar dagang, wilayah Sumatra masa Sriwijaya juga merupakan pusat dari kegiatan agama Buddha terbesar di zamannya, bahkan tempat singgah para pelancong dari berbagai tempat. Kondisi ini dimungkinkan bahwa wilayah Sumatra kemudian sebagai wilayah yang telah membuka diri terhadap kedatangan “pihak asing”, adanya hubungan interaksi dengan dunia luar secara tidak langsung memengaruhi kebudayaan setempat. Meskipun begitu, Songket tetaplah ciri khas yang tidak ditemukan di wilayah lainnya dan mengisi khazanah kekayaan budaya masyarakat setempat, yang masih bisa dirasakan sampai saat ini.

Mulai melemahnya kerajaan-kerajaan di Nusantara pada akhir bad ke-18 khususnya di Pulau Sumatra dan munculnya kolonial Belanda, secara tidak langsung telah berdampak pada kerajinan tenun songket ini.

Sampai menjelang Perang Dunia II, keberadaan songket bahkan mengalami kemunduran karena kesulitan mendapat bahan baku. Berakhirnya pengaruh Belanda di Nusantara karena meluasnya pengaruh Jepang di Asia Pasifik, hingga menjelang masa kemerdekaan sampai dengan tahun 1950, tenunan kain Songket seolah mati suri.

Kesulitan mendapatkan bahan baku dan memasarkan hasil produksi adalah permasalahan terbesar saat itu. Menjelang pertengahan abad ke-20, kerajinan kain songket diperkirakan kembali mulai bergiat terutama karena muncul inisiatif memanfaatkan kembali benang emas dan benang perak dari tenunan kain songket yang lamayang sudah tidak dipakai, atau benang dasarnya sudah lapukuntuk dijadikan tenunan kain songket yang baru. Selanjutnya kerajinan songket mulai banyak dikerjakan kembali oleh para pengrajin. Banyaknya bahan baku yang hadir di pasaran baik yang berasal dari Cina, Taiwan, India, Prancis, Jepang dan Jerman menandakan bahwa tenun songket mulai menapaki kejayaannya kembali. Mulai kembali banyak permintaan Songket di masyarakat, mungkin menjadi faktor pendukungnya. Pada akhir abad ke-20 dan menjelang abad ke-21, Songket bahkan telah merambahi dunia fashion sebagai salah satu bahan kain yang mengagumkan.

Keberadaan kain songket memang telah mengalami pasang surut dalam sejarahnya. Seiring dengan usaha masyarakatnya untuk mempertahankan peninggalan kebudayaan masa lampau itu, Songket kemudian dapat melewati tantang dari tiap zamannya. Bertahannya kain songket ini, selain memiliki bentuk yang indah juga karena nilai historis-nya, Songket dipertahankan terutama karena masih mendapatkan tempatnya dalam budaya mereka. Keberadaan kain songket, merupakan salah satu kekayaan bangsa yang harus dijaga keberadaannya agar tetap lestari.

Macam dan Jenis Kain Songket

Songket Lepus
Lepus kurang lebih artinya menutupi; Songket yang benang emasnya hampir menutupi seluruh bagian kain. Sesuai motifnya, jenis Songket Lepus ini pun dikenal dengan berbagai macam nama: Lepus Lintang, yang memiliki motif bergambar bintang, Songket Lepus Berantai, Songket Ulir, dan lain-lain.

Songket Tawur
Tawur kurang lebih artinya bertaburan atau menyebar. Songket Tawur ini memiliki motif yang tidak menutupi seluruh permukaan kain tetapi berkelompok dan menyebar. Benang pakan pembentuk motifnya juga tidak disisipkan dari pinggir ke pinggir kain. Yang termasuk ke dalam jenis Songket Tawur yaitu songket tawur lintang, songket tawur nampan perak, songket tawur tampak manggis, dan lain-lain.

Songket Tretes
Pada kain Songket jenis Tretes ini umumnya tidak dijumpai pola atau motif pada bagian tengah kain. Misalnya motif-motif yang terdapat dalam Songket Tretes Mender yang hanya terdapat pada kedua ujung pangkalnya dan pada pinggir-pinggir kain, bagian tengah dibiarkan polos tanpa motif.

Songket Bungo Pacik
Pada kain songket jenis Bungo Pacik, sebagian besar dari motifnya dibuat dari benang kapas putih, sehingga benang emasnya tidak banyak terlihat dan hanya mengisi sebagian motif selingan.

Songket Limar
Songket Limar atau kain limar berbeda dengan pengerjaan songket lainnya. Songket ini ditenun dengan corak ikat pakan. Motifnya berasal dari  jalinan benang pakan (benang lungsi) yang diikat dan dicelup pewarna pada bagian-bagian yang diinginkan sebelum ditenun. Kain Limar ini biasanya digunakan untuk kain sarung laki-laki atau perempuan yang disebut sebagai sewet. Biasanya motif dari kain limar dikombinasikan dengan corak songket untuk digunakan wanita. Corak Kain limar pada bagian badan kain dan corak songket diletakan pada kepala kain.

Songket Kombinasi
Songket Kombinasi, sesuai namanya merupakan perpaduan dari jenis-jenis songket lainnya, misalnya Songket Bungo Cina yang merupakan gabungan jenis motif songket Bungo Pacik dengan jenis Songket Tawur. Sedangkan jenis Songket Bungo Intan adalah gabungan antara Songket Bungo Pacik dengan jenis Songket Tretes .

Selain jenis songket-songket di atas, masih terdapat jenis songket lainnya yang umumnya dinamakan berdasar pada motifnya, misalnya Songket Pucuk Rebung, Songket Bungo Manggis, Bungo Tanjung, Bungo Melati, Songket Sorong dan lain sebagainya.

Motif kain yang sering menghiasi kain songket adalah motif bunga, ini menandakan bahwa aktivitas menenun memiliki kedekatan dengan dan untuk wanita serta mencerminkan wanita. Pada zaman dahulu songket itu mereka tenun sambil menunggu datangnya lamaran dari laki-laki.

Walaupun sejarah telah mencatat bagaimana kain songket ini telah melewati berbagai lintasan zaman, namun kain songket tidak terlalu banyak mengalami penambahan motif. Motif bunga manggis dalam desain kain songket bahkan memperlihatkan persamaan dengan motif bunga yang terdapat pada candi Prambanan.

Untuk membuat motif yang berbeda pada kain songket, biasanya ditenunkan dua atau tiga motif kain songket lainnya, sehingga menghasilkan perpaduan yang indah dan menarik tetapi, hal itu tidak keluar dari tata aturan yang mereka yakini.

Warna yang digunakan dalam kain songket pada masa lalu didapat dari pewarna-pewarna alam; pohon dan buah kesumba misalnya dapat digunakan untuk campuran yang menghasilkan warna ungu, merah anggur, dan hijau.Warna ungu juga dapat dihasilkan dari kulit buah manggis. Warna kuning dari tanaman kunyit, sedangkan warna merah terang berasal dari kulit kayu sepang yang sudah berumur.

Untuk membuat warna dalam kain tenun jelas memerlukan pengetahuan yang tidak sembarangan dan ketersediaan pewarna-pewarna tersebut yang berasal dari tanaman atau jenis pohon tertentu harus dibudidayakan dekat dengan lingkungan mereka. Berkurangnya lahan untuk membudidayakan atau tanaman tersebut tidak lagi dijumpai menjadi indikasi bahwa bahan pewarna sudah berganti menjadi bahan pewarna tekstil yang umumnya digunakan dengan campuran kimia.

Simbol dan Perlambangan

Manusia sebagai makhluk simbolik atau Homo symbolicum. Simbol atau lambang tersebut sering digunakan manusia sehingga merepresentasikan makna bagi orang lain. Simbol-simbol itu tidak terkecuali juga hadir dan terdapat dalam warna serta motif kain songket.

Setiap warna dalam kain songket memiliki makna yang dapat menujukan status dan keadaan dari si pemakainya, kuning sebagai lambang emas telah mewarnai kebesaran dan keagungan yang bukan hanya sebagai status kekayaan namun juga status sosial. Kain songket dengan warna hijau, kuning dan merah padam mungkin dipakai oleh mereka yang “janda”, sedangkan bila hendak menikah lagi mengenakan warna-warna yang terang dan lebih cerah.

Songket biasanya dipakai sebagai busana pakaian adat untuk menghadiri dan menggelar upacara-upacara adat. Upacara perkawinan merupakan salah satunya. Songket tidak hanya menjadi busana pengantin, tapi mas kawin dan tamu undangan pun kerap menggunakan songket.

Songket umumnya tidak untuk dikenakan sehari-hari, ini menandakan bahwa kain songket tidak untuk dipakai sembarangan, karena selain “terlalu mewah” jika dikenakan sehari-hari, Songket juga mengandung makna-makna tertentu. Makna yang merupakan perlambang dari si pemakainya. Sebagai contoh, songket yang dikenakan untuk upacara perkawinan berbeda dengan Songket yang digunakan dalam upacara adat lainnya.

Seperti sudah menjadi kekhususan bahwa warna merah yang menyala harus dikenakan oleh pengantin sedang untuk upacara adat lainnya ada kelonggaran untuk memilih motif dan warna. Pada masa lalu pemakaian kain songket mungkin  dibedakan antara keluarga kerajaan, pegawai, 
bangsawan dan rakyat biasa. Perbedaan pemakaian kain songket penting karena dalam kain songket tersebut mempunyai motif-motif yang menyimbolkan “sesuatu”, makna yang coba direfleksikan oleh pemakainya.

Misalnya Songket dengan motif bunga tanjung yang melambangkan keramah-tamahan, dipakai untuk menyambut tamu, khususnya dipakai tua rumah sebagai ungkapan dari selamat datang.

Songket dengan motif bunga melati melambangkan keanggunan, kesucian, dan sopan santun. Kain songket dengan motif bunga melati biasanya dikenakan oleh perempuan yang belum menikah.
Songket dengan motif pucuk rebung melambangkan sebuah harapan, sebuah doa dan kebaikan. Motif pucuk rebung selalu mengambil tempatnya dalam setiap perayaan adat, Motif tersebut hadir sebagai kepala kain atau tumpal. Mengenakan motif pucuk rebung dimaksudkan agar si pemakai diberkati dengan keberuntungan dan kemudahan dalam setiap langkah hidupnya.

Saat ini, perlambang dalam motif kain tidak sedikit yang mengabaikannya. Hal ini tidak hanya terjadi pada tenun songket, tapi juga tenun-tenun lainnya. sungguh disayangkan jika kita atau pembuatnya hanya tahu bentuk dan nama saja, sedangkan maknanya sudah jauh entah ke mana. Sesungguhnya, belum terlambat untuk bertanya karena mereka yang mengerti masih ada.

Sumber:
http://www.wacananusantara.org/