Wednesday, December 2, 2015

Kelangkaan Kain Tapis Lampung

Kain tenun tapi merupakan salah satu cinderamata khas Lampung yang banyak diburu wisatawan. Artinya berkunjung ke Lampung tanpa membeli kain tapis, terasa kurang afdol. Kain tapis pun mudah didapat, mulai dari kelas masyarakat yang harganya ratusan ribu, hingga kelas mewah yang harganya menyentuh jutaan rupiah.

Kerajinan kain tapis sendiri sudah berlangsung turun temurun dilakukan masyarakat Lampung. Namun karena proses pembuatannya yang agak rumit, generasi yang belakangan mulai meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya, dalam menenun kain tapis. Kondisi itu membuat gusar pemerintah karena khawatir budaya menenun kain tapis bakal tergusur.

Wajar kegusaran itu muncul mengingat, motif-motif kain tapis mulai banyak yang tidak diingat oleh masyarakat Lampung. Dari jumlah awal yang mencapai ratusan motif, kini kain tenun tapis hanya menampilkan tigapuluh motif saja. Mereka yang mengingat motif kain tapis pun makin terbatas pada perajin yang tetap konsisten menjaga budaya leluhurnya. (Baca: kain tenun tapis murah)

Untuk mendorong perajin tetap menekuni kain tenun tapis, pemerintah Lampung berupaya melakukan berbagai rangsangan seperti menggelar pameran. Selain itu, sentra penjualan kain tenus tapis pun diperbanyak, dengan harapan mempermudah wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh kain tapis.

Darman salah seorang perajin kain tenun tapis di Kalianda Lampung Selatan mengatakan, ada beberapa motif kain tapis yang sudah dilupakan perajin. Kalau dalam sejarahnya, motif kain tapi itu mencapai duaratusan. Kini hanya puluhan saja, motif yang masih digunakan para perajin. Jumlah perajin pun terus berkurang. Mungkin ini terkait dengan rumitnya pembuatan kain tenun tapis, sehingga generasi muda sekarang yang tidak mau repot, enggan untuk menekuninya.

Menurut Darman, pembuatan kain tenun tapis secara tradisional memakan waktu cukup lama. Waktu yang paling singkat untuk menyelesaikan kain tenun tapis bisa mencapai satu bulan. Apalagi kalau motif-motifnya yang lebih lebih rumit, mungkin penyelesaiannya lebih lama. Itu pula yang membuat kain tapis harganya jadi agak mahal.

Sementara Sarah, perajin asal Tulangbawang mengungkapkan, memang banyak wisatawan yang berkunjung ke Lampung menanyakan kain tapis untuk oleh-oleh. Namun tidak sedikit pula wisatawan yang akhirnya batal membeli kain tapis setelah mengetahui harganya agak mahal. Untuk kain tapis yang kelas pasaran saja, wisatawan harus mergoh kocek hingga Rp 350.000,00. Sementara harga kain tapis yang agak mewah bisa menembus Rp 2 juta ke atas.

"Biasanya yang banyak membeli turis dari luar negeri. Mereka membeli bukan untuk digunakan, cuma hanya untuk kenang-kenangan saja. Mereka membeli sebagai bentuk penghargaan atas karya seni. Para turis asing merasa kagum dengan proses pembuatan kain tenun tapis. Apalagi setelah tahu hasil tenunan kain tapi sangat indah. Perajin kain tenun tapis berharap agar diperbanyak lagi kegiatan-kegiatan yang bisa mempromosikan kain tapis sekaligus menjadi ajang pemasaran," ujar Sarah.

Sarah menjelaskan, motif kain tenun tapis yang masih sering dipakai para perajin, antara lain Cucuk Andak, Jung Sarat, Laut Andak, Areng, Inuh, Semaka, Kuning, Cukkil, Jinggu, Balak, Laut Linau, Raja Medal, Pucuk Rebung, Tuho, Sasap, dan Lawok Silung. Di luar motif-motif itu, masih banyak lagi motif yang berkembang di beberapa daerah pedalaman Lampung. Sebagian besar menggambarkan kekayaan alam di Lampung, baik berupa flora maupun fauna dan pemandangan alam.

Penggunaan kain tapis, selama ini bagi masyarakat Lampung untuk kegiatan-kegiatan adat. Misalnya upacara pernikahan, menyambut tamu, dan pemberian gelar. Namun mulai banyak juga masyarakat Lampung yang memodifikasi kain tenun tapis untuk kegiatan kekinian.

Motif yang dipakai pada kain tenun tapis, turut mempengaruhi penggunaannya. Seperti kain tapis motif Cucuk Andak biasanya dikenakan oleh istri kepala adat yang bergelar sutan saat menghadiri upacara pernikahan. Tapis Jung Sarat lebih sering dipakai mempelai wanita pada upacara adat pernikahan. Tapis motif Laut Andak digunakan oleh gadis-gadis penari pada upacara adat cangget. Dan tapis motif Areng dikenakan oleh istri-istri yang suaminya sudah mendapat gelar sutan, saat menghadiri upacara pemberian gelar.

Sumber:

http://www.pikiran-rakyat.com/

No comments:

Post a Comment