Kain tenun tapi merupakan salah satu cinderamata khas Lampung
yang banyak diburu wisatawan. Artinya berkunjung ke Lampung tanpa membeli kain
tapis, terasa kurang afdol. Kain tapis pun mudah didapat, mulai dari kelas
masyarakat yang harganya ratusan ribu, hingga kelas mewah yang harganya
menyentuh jutaan rupiah.
Kerajinan kain tapis sendiri sudah berlangsung turun temurun
dilakukan masyarakat Lampung. Namun karena proses pembuatannya yang agak rumit,
generasi yang belakangan mulai meninggalkan kebiasaan nenek moyangnya, dalam
menenun kain tapis. Kondisi itu membuat gusar pemerintah karena khawatir budaya
menenun kain tapis bakal tergusur.
Wajar kegusaran itu muncul mengingat, motif-motif kain tapis
mulai banyak yang tidak diingat oleh masyarakat Lampung. Dari jumlah awal yang
mencapai ratusan motif, kini kain tenun tapis hanya menampilkan tigapuluh motif
saja. Mereka yang mengingat motif kain tapis pun makin terbatas pada perajin
yang tetap konsisten menjaga budaya leluhurnya. (Baca: kain tenun tapis murah)
Untuk mendorong perajin tetap menekuni kain tenun tapis,
pemerintah Lampung berupaya melakukan berbagai rangsangan seperti menggelar
pameran. Selain itu, sentra penjualan kain tenus tapis pun diperbanyak, dengan
harapan mempermudah wisatawan yang ingin membawa oleh-oleh kain tapis.
Darman salah seorang perajin kain tenun tapis di Kalianda Lampung
Selatan mengatakan, ada beberapa motif kain tapis yang sudah dilupakan perajin.
Kalau dalam sejarahnya, motif kain tapi itu mencapai duaratusan. Kini hanya
puluhan saja, motif yang masih digunakan para perajin. Jumlah perajin pun terus
berkurang. Mungkin ini terkait dengan rumitnya pembuatan kain tenun tapis,
sehingga generasi muda sekarang yang tidak mau repot, enggan untuk menekuninya.
Menurut Darman, pembuatan kain tenun tapis secara tradisional
memakan waktu cukup lama. Waktu yang paling singkat untuk menyelesaikan kain
tenun tapis bisa mencapai satu bulan. Apalagi kalau motif-motifnya yang lebih
lebih rumit, mungkin penyelesaiannya lebih lama. Itu pula yang membuat kain
tapis harganya jadi agak mahal.
Sementara Sarah, perajin asal Tulangbawang mengungkapkan, memang
banyak wisatawan yang berkunjung ke Lampung menanyakan kain tapis untuk
oleh-oleh. Namun tidak sedikit pula wisatawan yang akhirnya batal membeli kain
tapis setelah mengetahui harganya agak mahal. Untuk kain tapis yang kelas
pasaran saja, wisatawan harus mergoh kocek hingga Rp 350.000,00. Sementara
harga kain tapis yang agak mewah bisa menembus Rp 2 juta ke atas.
"Biasanya yang banyak membeli turis dari luar negeri.
Mereka membeli bukan untuk digunakan, cuma hanya untuk kenang-kenangan saja.
Mereka membeli sebagai bentuk penghargaan atas karya seni. Para turis asing
merasa kagum dengan proses pembuatan kain tenun tapis. Apalagi setelah tahu
hasil tenunan kain tapi sangat indah. Perajin kain tenun tapis berharap agar
diperbanyak lagi kegiatan-kegiatan yang bisa mempromosikan kain tapis sekaligus
menjadi ajang pemasaran," ujar Sarah.
Sarah menjelaskan, motif kain tenun tapis yang masih sering
dipakai para perajin, antara lain Cucuk Andak, Jung Sarat, Laut Andak, Areng,
Inuh, Semaka, Kuning, Cukkil, Jinggu, Balak, Laut Linau, Raja Medal, Pucuk
Rebung, Tuho, Sasap, dan Lawok Silung. Di luar motif-motif itu, masih banyak
lagi motif yang berkembang di beberapa daerah pedalaman Lampung. Sebagian besar
menggambarkan kekayaan alam di Lampung, baik berupa flora maupun fauna dan
pemandangan alam.
Penggunaan kain tapis, selama ini bagi masyarakat Lampung untuk
kegiatan-kegiatan adat. Misalnya upacara pernikahan, menyambut tamu, dan
pemberian gelar. Namun mulai banyak juga masyarakat Lampung yang memodifikasi
kain tenun tapis untuk kegiatan kekinian.
Motif yang dipakai pada kain tenun tapis, turut mempengaruhi
penggunaannya. Seperti kain tapis motif Cucuk Andak biasanya dikenakan oleh
istri kepala adat yang bergelar sutan saat menghadiri upacara pernikahan. Tapis
Jung Sarat lebih sering dipakai mempelai wanita pada upacara adat pernikahan.
Tapis motif Laut Andak digunakan oleh gadis-gadis penari pada upacara adat
cangget. Dan tapis motif Areng dikenakan oleh istri-istri yang suaminya sudah
mendapat gelar sutan, saat menghadiri upacara pemberian gelar.
Sumber:
http://www.pikiran-rakyat.com/
No comments:
Post a Comment